Selasa, 28 April 2015

Jembatan Tukad Buleleng, Di Sukasada


















Jembatan Tukad Buleleng yang menghubungkan Desa Bakung dengan Desa Sari Mekar/Runuh ini dikenal sangat angker. Pun diyakini merupakan Pelintasan Banaspati Raja. Pengendara yang tak pernah menghaturkan sesajen dan berani berbuat tidak senonoh, akan diberi peringatan bahkan pelajaran pelajaran.


Di balik keangkerannya itu, penguasa jembatan ini dikenal bares (pemurah). Pasalnya banyak krama yang memohon dengan tulus, tercapai keinginannya. Itu terbukti banyaknya krama yang nawur sesangi (membayar kaul) mulai dari pajeng, kain putih kuning, bahkan sampai babi guling.
Seperti dijelaskan  Jro Mangku Nyoman Sumendra, pria kelahiran tahun 1959 ini ketika ditemui di rumahnya di Banjar Apit Yeh, Dusun Delod Margi, Desa Sari Mekar, Sukasada, Buleleng.
Jembatan Tukad Buleleng itulah sebuah nama sungai yang menghubungkan antara Desa Bakung dengan Desa Sari Mekar/Runuh, Sukasada, Buleleng ini dikenal sangat angker. Pasalnya banyak kejadian aneh mewarnai perjalanan krama yang melewati tukad ini. Di sini terdapat dua buah palinggih yang diyakini stananya penguasa jembatan ini.
Jalan menuju jembatan cukup merepotkan, karena baik dari arah barat maupun dari arah timur, krama harus melewati jalan yang menurun disertai tikungan tajam. Pada musim hujan jalan ini sangat licin, sehingga krama harus ektra hati-hati, terutama mereka yang baru pertama kali melewati jembatan ini.
Dulu di sebelah selatan jembatan, adalah bekas lokasi kuburan. Sementara jika pelintas datang dari arah barat di sebelah utara jembatan, menganga jurang dengan kedalaman kurang lebih sekitar 50 meter. Di bawah jurang terdapat sebuah palinggih yang dikenal sangat angker karena diyakini sebagai perkampungan makhluk halus sejenis Wong Samar, Memedi, dan lainnya.
Memang jika dilihat dari atas jembatan, di dasar jurang itu dipenuhi rimbunnya pohon bambu dan pepohonan jenis lainya yang cukup rindang. Sepintas, memang tidak ada yang istimewa dari tempat ini, tetapi bila dicermati dan semakin lama berada di tempat ini, aura gaib semakin kuat mencengkram. Kondisi jembatan yang sudah tua, perlu lebih berhati-hati melewati jembatan ini.
Apabila krama kebetulan melewati jembatan ini, sebaiknya jangan berlama-lama melihat ke dasar sungai, karena kekuatan magis dari dasar sungai ini mampu menyedot dan menarik pikiran seseorang, sehingga jatuh ditarik kekuatan magis itu.
Di sebelah barat jembatan terdapat sebuah batu dihiasi kain poleng (hitam-putih). Batu ini oleh sebagian penekun spiritual atau orang yang sering bergelut di dunia nisakala, meyakini batu itu merupakan tempat pertemuan para makhluk gaib penunggu jembatan itu.
Di sekitar lokasi batu ini terdapat pohon kayu sonokeling sebagai tempat bermainnya para rarencang Ida Bhatara yang berstana di Palinggih yang ada di sebelah barat jembatan.
Pantauan TBA di lokasi, setiap orang yang melewati tempat ini tak lupa menghaturkan rarapan atau canang sari serta tak lupa membunyikan klakson kendaraannya sebagai pertanda memohon izin melewati jembatan ini.



https://baliaga.wordpress.com/2009/12/05/misteri-jembatan-tukad-buleleng-di-sukasada/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar